1. "Jadi ayah/ibu yang berpendidikan/cerdas/pintar itu penting, karena anak-anak kita berhak punya ayah/ibu yang cerdas." Pasti sering anda jumpai kalimat diatas. Lewat postingan dengan redaksi yang nyaris serupa. Di berbagai media. Dalam berbagai file format  yang disebarluaskan dan diamini bersama-sama.

    Husnudzon saja, semoga yang dimaksud itu berpendidikan dalam hal AGAMA, ad diinul Islam. Sebab, buat apa berpendidikan kalau akidahnya sesat? Buat apa cerdas kalau akhlaqnya minim? Buat apa pintar kalau tidak selamat di akhirat? Buat apa ngumpulin gelar akademis kalau nggak berkah?

    Lah, emang pendidikan itu sendiri apa sih? Yang memanusiakan manusia, yang ini ni ni ni, yang itu tu tu tu, atau yang bla bla bla bla bla kata orang-orang sekuler itu?

    Naah, daripada bingung ngikutin kata-kata mereka, yok mendingan kita kaji lagi apa itu pendidikan dalam Islam. Bertahap terus kita pelajarin Islam. Nih salah satu kajian rutin di UNJ. Gratis. Terbuka buat semua orang. Setiap Kamis sore di Taman FBS, Kampus A UNJ. Duduk-duduk santai tapi serius. Temanya insya Allah berkesinambungan, kite kaji bareng pandangan sesosok ulama legendaris yaitu Burhanuddin Az Zarnuji dalam kitab legendaris beliau “Ta’limul Muta’alim”. Bareng sama Ustadz Ardiansyah, pakar Pendidikan dari MIUMI, kandidat Doktor UIKA Bogor.

    Kurang apalagi? Yok ah cari berkah!

    image*catatan : yang bikin desain poster bukan saya ya

  2. The Road goes ever on and on
    Out from the door where it began.
    Now far ahead the Road has gone,
    Let others follow it who can!
    Let them a journey new begin,
    But I at last with weary feet
    Will turn towards the lighted inn,
    My evening-rest and sleep to meet.
    Bilbo Baggins to Frodo Baggins. (The LOTR, Part Three. Page 321. JRR Tolkien)

  3. Keep laughing at myself. Life is just a game, a play, and an amusement, right? Let’s be the lucky one!
    me and myself
  4. Cara paling baik untuk menyelesaikan wirid tilawah al Qur’an harian dengan teratur:

    1. Mengkhususkan waktu yang sudah pasti untuk melaksanakannya. Mungkin habis shalat subuh, dalam perjalanan menuju tempat kerja, sebelum tidur, atau pada waktu yang lain sesuai dengan kondisi kita masing-masing.

    2. Sekaligus atau dicicil: mungkin setiap selesai shalat dibaca seperempat juz, atau dibaca sekalian sesuai keadaan.

    3. Sedapat mungkin selalu ada mushaf al Qur’an kecil di dalam saku yang bisa dibaca kapan pun ketika ada kesempatan. Sekaligus mengamalkan sunnah Rasulullah:

    (لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله).

    "Senantiasa lidahmu basah dari zikir mengingat Allah".

    4. Bacalah wirid harianmu dengan niat kamu lagi menerima pesan dari Tuhan yang berisi pesan bahwa Allah ingin memperbaiki agama dan duniamu. Jadikan dirimu bagaikan orang yang lagi mencari obat di dalam ayat-ayat Kitab Suci itu.

    5. Bersungguh-sungguhlah mentadabburinya. Bila hal itu luput darimu jangan sampai tilawahnya juga luput darimu walau tanpa tadabbur.

    Ibnu ‘Athaillah pernah berkata: “Lalai dalam beramal masih lebih baik dari pada lalai dari mengerjakannya (tidak mengerjakannya sama sekali)

    6. Do’akan lah saudara-saudaramu supaya dimudahkan oleh Allah untuk menyelesaikan wirid al Qur’annya, dan do’akan juga ia supaya cinta tilawah serta membiasakannya, niscaya Malaikat akan membalas mendo’akanmu: “Semoga Allah juga memberi hal seperti itu untukmu”.

    7. Andaikan wiridmu hari ini terlewatkan karena kesibukan pekerjaan atau ada kondisi lain yang membuatmu tidak bisa menyelesaikannya maka kejar pada hari berikutnya. Jangan sampai syetan mengalahkanmu dan menghilangkan kesempatanmu.

    DR. Khalid Abu Syadi

    ~ diposting ulang dari FB Ustadz Zulfi Akmal ~

  5. "Dalam hidupmu, apa yang kau cari?"

    Pertanyaan itu hadir sejak aku mulai merantau jelang kelas XI SMA dulu. Meninggalkan Bumi Ruwa Jurai, menuju bumi bertajuk Sulang, Rembang. Dan terus berkecamuk sampai ketika aku injakkan kaki di ibukota. Ia muncul setiap kali aku goyah menghadapi berbagai masalah.

    "Ridho Allah Tujuanku". Ringan saja aku membacanya, kala itu. Di buku tulis kepunyaan kakak kelimaku. Tapi itulah jawabannya. Yang membuatku menengok ulang setiap niat dan langkah. Yang kemudian meneguhkan ‘azzam dan himmah.

    Tanya itu juga yang hadir belakangan ini. Setiap kali hendak posting di medsos, hendak menulis komentar atau menjawab twit, ada yang membisik dalam hati. Tanya perlahan, namun tajam setajam belati.

    "Dengan update status ini, dengan postingan blog ini, dengan twit ini, dengan komentar di sini, apa yang kau cari?"

    Ridho Allah kah? Atau, hal-hal remeh lainnya?

    Begitulah. Maka sedari kemarin, tulisan-tulisanku yang seharusnya sudah terketik menjadi batal. Ketikan yang nyaris terposting akhirnya harus dihapus total. Karena niatnya sudah salah sedari awal. Hanya ingin melampiaskan nafsu eksistensi, berbangga-bangga dengan diri sendiri (yang aslinya hina), kritik pada orang dan golongan tanpa bercermin pada pribadi, sekadar iseng daring (online) dan meninggalkan tanggungjawab yaumi

    Laa haula wa laa quwwata illa biLlah.


    Maka semoga - tanpa bermaksud membuat perayaan baru atas kelahiran - hitung-menghitung usia ini jadi tadzkiroh, jadi pengingat atas segala amanat. Memohon ampun atas selaksa yang terlewat. Memohon kekuatan untuk tetap tsabat, dalam safar yang didoakan oleh ribuan malaikat.

    Terimakasih untuk semua yang pernah, masih, dan akan singgah dalam hidupku. Bapak, Ibu, Paklik Sholeh, Guru-guru dan Ustadz-ustadz. Tujuh saudaraku, Mas Po, Mbak Nia, Mbak Atun, Mbak Yul, Mbak Nur, Mbak Uci’, dan adikku tersayang Shabur. Untuk lima kakak iparku yang dirahmati Allah. Juga untuk empat belas keponakanku yang disayangi Allah. Untuk semua saudara-saudari seperjuanganku fiisabiliLlah, di tiga desa dan dua kota. Semoga Allah memberkahi mereka semua. Semoga Allah menjaga mereka semua. Semoga Allah beri petunjuk kepadaku dan mereka semua agar senantiasa dalam kebenaran dan kesabaran. Semoga Allah kumpulkan kami dalam Firdaus al A’la…


    Khususnya untuk Bapak. Aku sayang Bapak karena Allah. Allahummasyhad… Allahummaghfirlahuu warhamhuu wa’afihi wa’fuanhu…

    Sungguh Allah menjadi saksi. Atas setiap yang terjadi di langit dan bumi.

    Maka mohonlah perlindunganNya. Agar terjaga dari perbuatan nista dan cela.

    Maka mohonlah ampunanNya. Agar pupus semua salah dan dosa.

    Maka carilah ridhoNya. Disanalah terdapat keberkahanNya.

    Maka rengkuhlah keberkahanNya. Disanalah kebahagiaan hakiki bertahta.

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى

    Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii

    (Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan)[1]


    Wallahu a’lam. Wallahul musta’an.

    ~ Rawamangun Muka IV, 300814, jelang pindah kontrakan ~

  6. Al-Mazani bercerita bahwa at-Tamimi pernah membuat sebuah baju. Setelah jadi, ternyata ia menyenangi baju itu. Namun karena terpaksa, ia jual juga baju itu.

    Setelah dibawa oleh si pembeli, ternyata pada baju tsb terdapat sedikit sobekan. Maka, baju itupun dikembalikan. Al-Mazani menuturkan, ketika baju itu diperlihatkan cacatnya, at-Tamimi pun menangis sedih.

    "Jangan menangis, Tuan. Baju ini tetap akan kuambil dan kubayar,” ujar si pembeli.

    Mendengar teguran itu, at-Tamimi menjawab, “Sebenarnya aku menangis bukan karena itu. Baju itu memang kusenangi dan ia dikembalikan karena ada sedikit cela. Aku menangis karena aku teringat amal-amalku selama 40 tahun yang lalu. Aku takut kalau-kalau amal itu tidak diterima karena ada suatu aib atau cela.”

    (Multaqath al-Hikayat, Ibnu al-Jauzi)

    Dikutip dari status ustadz Budi Handrianto.

    Renungan untuk usia yang makin berkurang.

  7. as we never know if there is tomorrow.

    as we never know if there is tomorrow.

Next

RUANG-KATA-RUPA

Paper theme built by Thomas